Selasa, 21 Juni 2011

¶ Cinta yang Diam-diam


Enjoy this post


Malam suntuk dalam kesepian yang menghujam

Mengingat kembali roman sebulan singkat bersamamu
Entah roman atau balada

Roman cinta antara ak yang mencintaimu diam-diam

Atau...
Balada cinta yang melepaskan cintakuu diam-diam

Wahai penghujam yang telah memporak porandakan hati

Apa sesingkat ini kau bertahta dalam hariku ?
Atau hanya ingin singgah, lalu mempermainkannya?

Laksana etalase dalam kemegahan sebuah toki berlian aku memandangmu,

Menampakkan diriku dan perlahan mundur,
Sesekali aku singgah dan mencari keberadaanmu,
namun kemudian engkau menjauh tanpa ada jawab

Cinta yang diam-diam


Cinta yang diam-diam membuat hariku menjadi tak bermatahari

Cinta yang diam-diam membuat ku memiliki waktu yang tak ada tepi
dan..........
Cinta yang diam-diam membuatku tersayat

Pernahkah kau tahu bahwa ada cemburu dalam hati ketika cinta yang diam-diam melihatmu dalam sebuah frame bersama dia yang ku tahu pernah menjadi bingkisan kecil dalam hidupmu ??


Pernah kau merasa bahwa sungguh aku merasakan ketertarikan yang teramat, ketergilaan yang teramat sampai hampir membuatku mati suri redup tak bercahaya??


Cinta yang diam-diam membuatku mendongeng sebuah kisah palsu hanya untuk meratapi perasaan yang ku tutup dengan kegengsianku,

dan ....
Cinta yang diam-diam membuatku takut tak akan ada waktu dalam 24 jam nafasku untuk melihatmu dan sekedar memberimu cinta yang diam-diam
 

cikijing, 22 Desember 2010
WOOW COWOK MATRE

selamat membaca


CEWEK MATRE mungkin sudah tidak asing, lantas bagaimana jika COWOK MATRE ?? emmm
Saya pernah loh mengalaminya, gak usah sebut merk dan tanpa menjelek-jelekan juga, tapi ini buat jadi pelajaran aja. 

Setiap di ajak kesini ngakunya gak punya duit, bahkan buat beli soto ayam di pinggir jalan aja juga bilang gak punya duit, padahal beberapa kali saya sering mergokin di dompetnya ada duit kok ckck.  Atau kalo saya minta jemput dengan dia saya yang selalu mengisikan bensin dia (sama aja naek ojek).  Terkadang saya suka mengetes dia dengan jika sedang di perjalanan dengan bilang " Ya ampun perut aku perih banget laper, tapi gak ada duit" tapi dengan santai dia bilang "Ya udah gak usah makan sabar aja tunggu sampe rumah aku juga gak ada uang" padahal yahh dompetnya saya lihat dulu ada (bukan maksud gak sopan tapi sekedar membuktikan), meski seperti itu tapi terkadang dia juga pernah bayarin saya makan tapi gak tau kapan sudah lama bangat mungkin.

Yah saya hanya bisa bernyanyi aja deh
"Di mana malumu, setiap kali ku ajak berkencan aku yang bayar"
hahaha
Pasalnya ini COWOK bukan CEWEK, saya aja jadi cewek masih punya harga diri buat gak minta bayarin sekalipun itu sama cowok sendiri, tapi kata orang-orang itu wajar kok kalo cewek minta bayarin.  Yah saya sih anggap saja sedang bersedekah.

Usut punya usut ternyata jaman sekarang kebanyakan cewek yang bayarin cowoknya.  SAYA BARU TAHU!!!  Bukan maksud hitung-hitungan, tapi seharusnya cowok punya malu sedikit lah masa apa-apa cewek yang bayar, cukup sadar diri sajalah JANGAN MACARIN ANAK GADIS ORANG KALO GAK MAMPU !

"Setiap kali jalan kadang saya juga yang menuhin suplainya buat rokok cowok saya" ujar Intan tetangga saya, dan kejadian yang sama juga terkadang saya alami.  Saya kadang berpikir waah betapa bodohnya saya mau saja jadi ATM BERJALAN setiap kali jalan sama dia.  Tapi ya sudahlah, mungkin ini sudah nasib punya cowok sedikit MATRE dan TEMPRAMENTAL.  Hanya berdoa saja semoga saya dapat lebih dari keikhlasan saya.
Akhir Yang Menyesakkan

Enjoy this post

Bagian III (Sehari Bersama)

Akhirnya aku pun mendapat jawaban yang sangat perih bahwa besok memang benar-benar tidak ada waktu bagiku bersama ayah.  Dandi pun belum menelepon, mungkin dia masih sangat sibuk dengan persiapan skripsinya.  Mendung pun terlihat di balik jendelaku.  Kicauan buruk peliharan ayahku, dan jeritan monyet yang berasal dari teras belakang benar-benar membuat suasana sangat sunyi,  Gemericik air mancur yang ada persis di taman belakang dekat ruang makan semakin membuat perasaanku seolah-olah ingin mengalir bersama tangisan.

Waktu pun terus bergulir, tak terasa senja menghampiriku di pelupuk langit.  Ku tutup jendela kamarku, dan terdengar suara ring tone memanggil dari telepon genggamku.  "Dandi!!"  Ucapku dengan semangat kemudian ku angkat untuk memulai percakapan.  Entahlah tiba-tiba ku merindunya.

"Halo cantik ! "  Sapa Dandi dengan lembutnya.
"Halo Onyet ganteng! Baru selesai yah sayang tugasnya?"  Tanyaku dengan manja
"Apa? Sayang? Kamu manggil aku sayang?"  Ledeknya dengan nada yang sangat terkejut.  Aku memang jarang mengeluarkan kata-kata sayang untuknya, mungkin karena aku terlahir sebagai wanita yang sangat cuek.

"Ndi, besok kayaknya kita bisa deh jalan!"  lanjutku.
"Serius cantik? Oke, aku bakal nganterin kamu kemana aja yang kamu mau!"  Jawabnya dengan suara yang teramat gembira.
"Mending tentuin aja dari sekarang kamu mau kemana" tanyannya kembali.

Kami pun diam beberapa saat, terdiam karena bingung menentukan tujuan yang akan kami singgahi, namun tiba-tiba dengan spontannya Dandi mencetuskan satu ide yang membuatku akhirnya tersenyum

"Kita ke Ragunan aja cantik! Nah kamu kan gak pernah tuh liat uwa aku uwa Gorila! Hahah" Ucapnya sambil tertawa.
"Ah iya, iya aku mau, mau banget!"  Jawabku lukas.

****!!!!****

Keesokan paginya setelah ayahku berangkat bekerja, ku beranikan diri meminta izin untuk pergi bersama Dandi.  Dengan semangat 45 yang cukup menyita tenaga akhirnya ibu mengizinkanku pergi bersamanya asal tidak lewat dari pukul 17:00.  Bagi ayah ibuku pukul 17:00 adalah waktu terlama untukku menghabiskan waktu di luar.

Setelah memastikan kondisi siap aman terkendali untukku jalan bersama Dandi, pukul 10 Dandi pun menjemputku.  Sebelumnya meminta izin kepada ibu untuk mengajakku keluar, dengan gaya selengeannya Dandi selalu membuat ibuku jengkel tapi tetap tersenyum.

"Assalammualaikum calon ibu mertua!"  Ucapnya dengan lenjeh.
"Waalaikumsalam!"  Jawab ibuku dengan memasang muka kecut.
"Ibu, Dandi izin bawa anak ibu jalan-jalan ya! Dijamin pulang masih kinclong, mulus, dan original luar dalam!"  Rengeknya dengan manja.
"Iya, tai inget..."  Belum selesai berbicara, Dandi langsung menyerobot menyelesaikan kalimat yang rupanya sudah tidak asing baginya, "Inget kalo harus sampai rumah jam 5 sore! Iya kan??." "Bagus kalo udah tau!" Jawab ibuku dengan muka tegasnya.

Setalah berpamitan, kami pun berangkat.  Mobil yang dikendarai Dandi pun perlahan meninggalkan rumahku.  Selama berada di perjalanan, kami hanya tertawa dan terlibat percakapan lucu yang hangat.  Ini yang membuatku merasa sangat nyaman bersamanya.  Dia selalu bisa membuatku tersenyum bahkan tertawa lepas sampai aku pun terkadang bisa melupakan semua beban yang sedang aku alami.  Selalu ada cerita konyol yang dia berikan untukku, selalu ada celotehan manja yang terkadang suka membuatku risih namun jujur aku sangat merasa dia benar-benar ada untukku saat celotehan manjannya hinggap di tengah perbincangan.

Setelah menjalani perjalanan jauh menuju Kebun Binatang Ragunan, kami pun berjalan mengelilinginya.  Sesekali mencoba beberapa wahana permainan seperti kereta-keretaan, atau menaiki gajah.  Tapi ada satu yang belum kesampaian yakni melihat Ggorila.  Aku memang belum pernah melihat gorila secara langsung.  Hanya gambar gorila di TV atau poster-poster yang sering aku lihat.

Setelah sampai di kandang gorila, aku pun langsung terbahak-bahak dengan hebohnya melihat penampakan tubuh gorila  yang besar dengan kelakuannya yang super lucu.  Saat itu Dandi menghentikan tawaku dan berkata " Seneng banget bisa lihat kamu ketawa lepas gini!".  Aku pun menghentikan tawaku dan merubahnya menjadi senyum dan menjawab "Iya, aku seneng banget!  Makasih yah Ndi, selalu bisa bikin aku ketawa."

Setelah puas melihat-lihat dan berfoto di pinggir kandangnya, kami pun bergegas untuk meninggalkan area kebun binatang.  Kakiku rasanya sangat kaku, pegal karena berjalan sangat jauh.  Aku juga melihat kelelahan yang sama di raut wajah Dandi.

"Ndi capek yah??" tanyaku dengan penuh perhatian
"Enggak kok, malah aku lihatnya kamu yang kecapean."

Tiba-tiba Dandi membungkuk membelakangiku 
"Ayok naek, aku gendong!"  
Aku pun hanya bisa berdiri terpaku dan dengan jengkelnya berkata
"Ah apaan sih!! Gendong segala! Malu ah!!"

"Udah cepetan naik!!"  Lukasnya sambil menarik kedua tangankku dan benar-benar menggendongku.  Namun belum jauh jarak yang ditempuh Dandi sudah mulai menyerah kelelahan.  Dia pun membeli air meneral yang berukaran 1 liter.  Aku pun teheran-heran dan bertanya dengan muka kebingungan "Ih, buat apaan ini beli airnya gede banget!" Dandi pun mejawab dengan gaya selengeannya "Ye, gak apa-apa kan kita bukan onta yang punya penampung air di punduknya, jadi kita beli aja yang gede, perjalanan kita kan masih jauh!!"

Setelah puas mengelilingi kebun binatang, Dandi pun mengajakku makan es krim klasik di Jalan Veteran. Tempat ini menjadi tempat favorit kami berdua untuk menghabiskan waktu sepulangku les.  Tempat yang penuh kenangan manis semanis es krim yang ditawarkan.  Aku pun melahap es krim dengan cita rasa mocca kesukaanku, sepanjang menyantap es krim Dandi benar-benar menghiburku dengan cerita-cerita lucunya ketika harus berhadapan dengan dosen pembimbingnya.

Cerita itu pun harus berakhir ketika aku melihat jam tua yang terpampang membisu di sudut ruangan di tempat es krim itu "Hah, udah jam 4!!" Ucapku dengan penuh ketakutan.  Dandi pun masih dengan santai dan memegang tanganku " Tenang yah cantik, semua akan baik-baik aja.  Percaya sama aku, ayah sama ibu gak akan marah sama kamu cuma gara-gara anak gadisnya telat pulang.  Percaya deh!" 

Aku hanya bisa tersenyum kecil.  Setelah menghabiskan semuanya, kami pun bergegas kembali ke rumah. Suasana Jakarta yang macet membuatku merasa sangat kelelahan dan panik.  Sampai-sampai aku pun tertidur di sepanjang perjalanan.  

Tak terasa aku sudah sampai di depan rumah.  Dandi yang meilhatku tertidur tak sampai hati membangunkanku, sampai akhirnya aku terbangun sendiri saat merasakan AC mobil yang mati.  "Kok gak bangunin aku Ndi??"  Tanyaku yang masih setengah sadar.  "Aku gak tega lihat muka polos kamu yang kecapean."jelasnya.

Mataku pun tertuju ke arah teras rumah.  Ku lihat mobil sedan merah terparkir di depan rumahku.  Nampaknya ayah sudah pulang.  Aku pun langsung di landa kepanikan, karena aku melihat ada beberapa SMS masuk yang dikirimkan oleh ibuku untuk mengingatkanku pulang.  Raut mukaku kembali memucat, Dandi yang menyadari kepanikanku langsung memegang pundakku dan berkata "Kalo aja kamu ngizinin aku buat ketemu sama ayah, aku bakal bilang sama ayah kamu dan minta maaf sebisa aku karena udah balikin putri kecilnya gak tepat waktu.  Tapi aku percaya sama kamu cantik, kamu pasti bisa ngeluluhin hati ayah kamu.  Entar malem kalo aku udah di rumah aku telepon kamu yah!".

Lagi-lagi aku hayna dapat tersenyum.  Ku beranikan diriku keluar dari mobil Dandi.  Tubuhku gemetar.  Ini kali pertama aku pulang telat, kali pertama sejak ayah tidak menegorku karena aku pulang telat akibat terlalu asik bermain footsal saat aku SMP dulu.  Aku pun tak tahu apa yang harus aku katakan, dan hukuman apa yang akan aku dapatkan.  Aku benar-benar berada di titik ketakutanku.

***************BERSAMBUNG************************
Tidak mudah menjadi ayah!

Enjoy this post


Menjadi orangtua itu sulit. Entah sebagai seorang ayah maupun ibu kedua-duanya sama-sama sulit. Tapi kali ini biarkanlah saya memberikan ruang pikiran saya tentang tidak mudah menjadi ayah.

Saya terlahir sebagai anak gadis yang mungkin dibilang abnormal. Disaat semua anak gadis lebih memilih dekat dengan ibunya, saya cenderung lebih memilih dekat dengan ayah. Percaya atau tidak saya lebih memilih menceritakan segala hal, termasuk urusan tentang kewanitaan dengan ayah ketimbang ibu. Bagi saya untuk apa malu, toh saya hidup dari ayah, bukan dari orang lain, yang salah jika saya lebih memilih bercerita dengan lelaki lain yang tidak ada garis mahramnya.

Kembali ke pokok pembicaraan tidak mudah menjadi ayah. Saya rasa memang sangat tidak mudah. Jika seorang ibu yang normal (tidak bekerja), bisa menghabiskan kebersamaannya dengan anak-anaknya, mungkin tidak dengan seorang ayah.

Saya merasa bahwa betapa bodohnya saya karena pernah menghujat kesibukan ayah. Padahal itu semua beliau lakukan untuk saya. Mungkin jauh dalah lubuk hati seorang ayah yang sibuk dengan pekerjaannya, tidak pernah sama sekali ingin melewati kebersamaannya dengan anak istrinya.

Ketahuilah bahwa orang pertama yang akan menangis ketika anaknya akan menikah adalah ayah. Ayah akan merasa sangat kehilangan, terlebih jika dia melepaskan seorang anak gadis kesayangannya.

Tidak mudah bagi seorang ayah untuk menafkahi keluarganya. Mudah atau sulitnya saya nilai dari mudah atau tidaknya seorang ayah mencari nafkah yang halal namun besar bagi anak istrinya. Terlintaskah di benak kalian bahwa ayah anda mungkin mengalami stress yang termat ketika kebutuhan hidup mendesak, namun cara yang halal sulit untuk ditempuh?

Ayah adalah yang menentukan prilakumu. Pernahkah kalian dengar, bahwa halal haramnya nafkah yang diberikan seorang ayah akan memperngaruhi prilaku anaknya? Saya rasa pernah, meski ayah tidak 24 jam membentuk karakter anaknya, tapi sesungguhnya sari pati yang tumbuh dari nafkah yang beliau berikanlah yang menjadi faktor penentu prilaku kalian.

Tahukah bahwa ayahmu terkadang menjadi pemerhati rahasiamu? Tahukah kalian disetiap perbincangannya dengan istrinya, bahwa anaklah yang pertama kali ditanyakan oleh seorang ayah.

Jika kalian bernasip sama seperti saya, dengan segala kekurangan waktu jumpa dengan ayah, maka perhatikanlah ketika ayahmu sedang terbaring lelah di kasur, perhatikan bahwa sesungguhnya dalam tidur lelap itu masih ada satu perasaan yang tersimpan, perasaan dimana ingin kembali bermain bersama anaknya, jauh sebelum kamu menjadi dewasa, dan perlahan menjauhkan diri darinya karna dirimu merasa bahwa kamu sudah cukup dewasa untuk lepas dari dirinya.

Tidak mudah menjadi ayah, karena saya paham itu setelah saya kehilangan banyak waktu dengannya. Kehilangan banyak kesempatan untuk hati saya menilai bahwa prasangka jahat saya tentang ayah tidak benar adanya.
Sayangi ayah, karena sesungguhnya ayah pun ikut andil dalam kehidupanmu, sejauh apa pun dia denganmu sekarang.


Dan saat ini saya hanya berpikir, bisakah Allah ciptakan satu orang lagi yang baiknya seperti ayahku untuk anak-anakku kelak? Seperti ayahku yang dengan sabar berdoa , yang dengan susah payah bekerja, dan yang dengan sangat hati-hati membenarkan selimutku tiap malam di saat lelap menyelimuti.