Another side from my life. This blog is my online journey, one of_____________________________________ place for share everything about another side in the world.
Selasa, 19 Juni 2012
Sabtu, 16 Juni 2012
Seucap Kata Untukmu yang Telah Pergi
keheningan merantau hati yang perih ..
saat semua telah berlalu ..
semua yang ingin kukatakan padamu
tertahan pahit di dada ,
semua yang ingin kukatakan padamu
tertahan pahit di dada ,
diam .. hening .. sunyi .. Air mata menetes .
aku kehilangan , bahkan tak tau lagi apa itu tawa
langkahku gontai , lelah mengharapmu kembali ..
hanya seucap doa , untukmu
di antara perih hati ini ,
ku doakan kau tetap bahagia seperti yang dulu ..
Selasa, 12 Juni 2012
Aku
lupa menulis tentang ini. Sebenarnya aku tak ingin menceritakannya, tapi hatiku
terlalu 'penuh' maka aku memutuskan untuk menuangkannya di sini.
Pada
tanggal 10 juni, aku menangis. Kukatakan padanya semua rasa dalam hati.
Sungguh, aku merasakan ketenangan dari setiap pesannya. Aku tak sempat
mengatakan 'Terima kasih' padanya karena terlampau susah untuk kembali
berkomunikasi dengannya. Ada satu alasan dimana aku tak ingin kehadiranku
membunuh suasana bahagia di sekelilingnya.
Malam
itu juga, untuk terakhir kalinya aku mendengar suaramu. Suara yang selama lima
bulan perjalanan kisah kita selalu aku rindukan sekarang tpat di tanggal 13.
Aku sadar, aku tak mungkin mengikatmu jika kamu selalu ingin berpisah dengan
talinya. Maka ketika keputusanmu adalah 'Putus', aku hanya mengelus dada,
menahan air mata yang tak mampu lagi tertampung, dan menguatkan hatiku sendiri.
Malam
itu, tak ada satu pun bintang yang hadir menemani aku. Bahkan untuk beberapa
hari setelahnya, langit mendung, tak bersahabat. Seperti aku yang tak masih tak
mampu membendung air mata dan kesedihan karena keputusanmu itu.
Tak
hanya keputusanmu yang menjadikan aku menggeleng kepala heran. Alasan yang kamu
ajukan pun membuat aku terheran-heran. Alasan itu bisa saja terpecahkan jika
kau mau dan kau ingin kita tetap bersama. Namun aku telah mendengar alasanmu
yang sebenarnya. Aku tahu dengan menanyakan kepada saudaraku sendiri. Aku
percaya padanya.
Alasanmu
benar-benar membunuh rasa sayang yang selama ini aku pupuk. Itu sungguh
melecehkan aku. Bagaimana bisa kau berpikir ?
Teman” juga mengatakan bahwa aku berlebihan dalam
mencintaimu. Memang aku akui aku berlebihan mencintaimu, karena aku merasakan
kebahagiaan dan merasa dihargai sebagai perempuan hanya denganmu. Tidak dengan
laki-laki lain. Tapi aku menunjukkan 'berlebihan' itu karena aku ingin kau
sadar bahwa kita ini adalah pasangan. kita ini bukan sekedar teman atau
sahabat.
Aku
butuh kepastian darimu. Sadarkah kamu bahwa sikapmu padaku tak ada yang
menunjukkan bahwa kau adalah lelakiku?
Sadarkah
kamu bahwa aku cemburu ketika kau berhubungan dengan wanita lain, daripada
mengkhawatirkan aku yang kedinginan karena udara malam? Bahkan kau tak
sedikitpun khawatir padaku jika aku hilang tanpa kabar. Sepenting itukah wanita
itu daripada aku yang mungkin saja menjadi masa depanmu?
Aku
pendam kecemburuan itu. Aku simpan amarah itu, bukan hanya perkara sepele itu
tapi juga karena perkara lainnya. Tak kulihat gelagatmu berusaha menyeimbangkan
keadaan denganku. Aku gerah bukan main.
Satu
hal yang pasti, keputusanmu adalah yang terbaik. Memang yang terbaik untuk
kamu. Aku tak akan mengejarmu lagi. Sudah cukup aku kehilangan kendali karena
kepergianmu, maka jangan pernah kau hadir dengan membawa harapan padaku jika
itu hanya untuk kau permainkan.
Kisah Karpet
Sebuah kisah nyata…
Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan
belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat
ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih &
teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya
itu.
Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau
karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan
hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak
enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di
rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.
Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama
Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya. Setelah mendengarkan cerita
sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata
kepada sang ibu:
“Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan” Ibu itu kemudian menutup matanya.
“Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?” Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yang murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.
Virginia Satir melanjutkan; “Itu artinya tidak ada seorangpun di
rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda
dan tawa ceria mereka.
Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi”.
Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang,
napasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung
cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.
“Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu &
kotoran di sana , artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah,
orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka
menghangatkan hati ibu”.
Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.
“Sekarang bukalah mata ibu” Ibu itu membuka matanya
“Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?”
“Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?”
Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Aku tahu maksud anda” ujar sang ibu, “Jika kita melihat dengan sudut
yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif”.
Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang
kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg
dikasihinya ada di rumah.
Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang
psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk
menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Dan teknik yang
dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita ‘membingkai
ulang’ sudut pandang kita sehingga sesuatu yang tadinya negatif dapat
menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.
Langganan:
Postingan (Atom)